Hal yang paling mengesankan tentang Ayah dan
Ibu
Oleh
: Gigih Mentari
Saya pribadi menganggap apapun yang
Saya lakukan bersama Ayah dan Ibu Saya merupakan hal-hal yang sangat
mengesankan. Mulai dari hal-hal kecil seperti makan bersama,diberi hadiah
ketika mendapat rangking kelas,hadiah ulang tahun,liburan,itu semua adalah hal
yang sangat mengesankan menurut Saya. Tapi dari hal itu semua pasti ada
peristiwa yang benar-benar membuat Saya terkesan dan tidak akan pernah
terlupakan.
Jika saya kupas dari pengalaman
pahit yang pernah keluarga Saya alami selama 4 tahun,Saya merasa sedikit
membenci Ayah Saya sendiri. Karena Ayah Saya tega mengkhianati kesetiaan Ibu
Saya yang sudah 20 tahun lebih mendampingi hidupnya. Masih Saya ingat
betul,sewaktu itu Saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Pada saat itulah Saya
mengetahui bahwa Ayah Saya menjalin hubungan dengan wanita lain,wanita tersebut
seorang janda beranak satu. Sungguh tidak terbayangkan sakit dan kecewa yang
kami rasakan pada waktu itu. Selama 4 tahun itulah Saya melihat bahwa Ibu saya
adalah seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Kami. Begitu kuatnya Ibu
Saya menahan rasa sakit yang dirasakannya. Ia harus menyembunyikan segala rasa
kecewanya. Ia lakukan itu semua semata-mata demi kami anak-anaknya.
Waktupun bergulir,hari demi hari
kami lalui pahitnya kehidupan. Hingga akhirnya,mungkin Ibu Saya sudah lelah
akan semua sakit yang dirasaknnya,Ibu Saya pernah meminta Ayah Saya untuk
menceraikannya dan meninggalkan kami semua. Tapi Ayah Saya menolak,bahkan Ayah
Saya mengatakan bahwa Ayah Saya tidak akan pernah meninggalkan kami keluarganya.
Lantas kenapa Ayah harus menyakitik perasaan Ibu? Kenapa Ayah harus
menggoreskan luka di hati Ibu dan Kami? Sampai sekarang kami tidak pernah tahu
apa alasan Ayah melakukan itu. Namun,pada saat-saat pahit itulah Saya merasa
sangat dan amat terkesan dengan apa yang dilakukan Ibu Saya. Saya merasa Ibu
Saya adalah seorang wanita hebat yang sangat luar biasa. Disatu sisi Ia harus
menahan rasa sakit dan kecewa yang mendalam,dsisi lain Ia harus meyakinkan kami
bahwa itu semua hanyalah cobaan dari Tuhan,dan kami tidak boleh membenci Ayah
kami,biar bagaimanapun Ayah kami tetap Ayah kami. YaAllah..adakah wanita lain
yang sehebat Ibu Saya ini?? I love you my mom :’(
Dan hal yang sedikit membuat kami
terobati adalah sikap Ayah Saya yang selalu berusaha semaksimal mungkin untuk
selalu ada untuk kami,berusaha membahagiakan kami. Meskipun Ia secara sadar
telah melakukan kesalahan yang benar-benar sulit untuk kami terima,Ayah
tetap menomorsatukan kami.
Singkat cerita kami benar-benar
sudah ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT,kami sekeluarga berharap ada
jalan terbaik yang akan kami temukan. Kami yakin ada hikmah di balik itu semua.
Ibu Saya selalu mengatakan bahwa yang kami alami pada saat itu adalah hanya
ujian dari Tuhan untuk kami menggapai kebahagiaan. Setiap mendengar kata-kata
tangguh Ibu Saya,kami selalu tersentak menangis bangga memiliki Ibu sepertinya.
Dan akhirnya lagi-lagi Allah memberi
kami cobaan yang benar-benar membuat kami terpukul. Allah memanggil Ayah Saya
untuk menghadap kepadanya. Pada saat itu Ayah sedang kerja mengemudi mobil
tangki minyak. Ayah mengalami kecelakaan pada malam hari. Mobil tangki yang
Ayah kendarai itu masuk jurang dan menyebabkan Ayah meninggal dunia. Pada saat
itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA,dan adik Saya masi kecil-kecil. Tapi
lagi-lagi Saya tetap percaya akan rencana indah Tuhan kepada keluarga Saya.
Mengingat akan kesalahan Ayah Saya
yang pernah mengkhianati kesetian Ibu Saya,Saya sempat berfikir tidak ada
sedikitpun hal-hal yang mengesankan yang bisa saya kenang bersama Ayah Saya.
Namun hati Saya tidak bisa Saya bohongi bahwa ada banyak momen yang benar-benar
membuat Saya tidak akan pernah bisa membenci Ayah Saya. Dulunya,sebelum Ayah
Saya menjalin hubungan dengan wanita lain,Ayah Saya adalah seorang Ayah yang
sangat menyenangkan. Saya sering mancing bersama Ayah Saya,berpetualang ke
rawah-rawah mencari belut dan penyu,karaokean lagu-lagu jaman dulu yang sampai
sekarang membuat Saya suka sekali menyanyi. Dan perlu diketahui,bahwa Saya
sangat mengidolakan suara Ayah Saya. Namun dari sekian banyak kenangan
tersebut,ada hal yang benar-benar membuat Saya sampai sekarang merasa sangat
terkesan jika mengingatnya,hal itu adalah ketika Saya duduk di bangku kelas 3
SMP. Pada saat itu Saya akan menghadapi ujian akhir semester. Saya menunggu
angkot tetapi tidak muncul juga. Akhirnya Saya putuskan untuk menelepon Ibu
Saya untuk mengantar Saya ke sekolah,tapi ternyata yeng menjawab teleponnya
adalah Ayah Saya. Ayah Saya malah marah karena menganggap Saya tidak disiplin hingga
akhirnya tidak dapat angkot. Tapi meskipun marah,Ayah Saya tetap menyusul Saya
ke simpang rumah Saya dan mengantarkan Saya. Sepanjang jalan Saya merasa takut
dimarahi namun sedikit senang. Sampai di sekolah Saya langsung turun dan menuju
gerbang. Tapi Ayah Saya memanggil Saya dan berkata,”loh,gak di salam
bapaknya??” jujur pada saat itu Saya benar-benar merasa gerogi tidak karuan
karena baru pertama kali itulah Saya diantar Ayah Saya ke sekolah setelah SD di
kelas 1 hari pertama sekolah. Dan ternyata,hari itu pulalah menjadi terakhir
kalinya Saya diantar Ayah Saya kesekolah. Jujur,Saya sedikit merasa iri
dengan teman-teman Saya yang selalu di antar jemput oleh Ayahnya. Namun tak
pernah sedikitpun Saya menyesali atas segala apa yang Saya alami. Karena Saya
sadar betul,bahwa kasih sayang Ayah Saya terhadap kami anak-anaknya sudah cukup
luar biasa dan sangat mendidik dengan segala kedisiplinannya. Saya selalu
merasa bersyukur telah terlahir dan tumbuh dewasa dengan tangan hebat Ayah dan
Ibu yang sangat luar biasa bagi Saya. Segala cobaan yang Saya alami bersama
kelurga Saya,tidak menjadi halangan untuk kami selalu bersyukur dan berdoa
kepada sang maha pencipta. Karena kami yakin dan akan tetap yakin bahwa
apapun yang kita alami akan ada hikmah dan masa indahnya. Kami tahu,Allah tidak
akan pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya. Yang terpenting
kita harus tetap sabar,ikhlas,dan selalu bertaqwa.
Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar